Community Empowerment & Training for Inclusive Futures

ComET (Community Empowerment & Training) Center adalah model pusat pelatihan vokasional dari Ruang Belajar Aqil (RBA) yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi dan digital untuk pemuda dan komunitas rentan. ComET dirancang sebagai hub pembelajaran dan pemberdayaan yang menyatukan pelatihan teknis, kewirausahaan, dan literasi digital secara inklusif. Inisiatif ini menjadi penggerak dalam menciptakan talent hub masa depan, sekaligus menghubungkan pelatihan keterampilan dengan peluang kerja, kewirausahaan, dan transformasi komunitas berbasis teknologi serta keadilan sosial. Sebagai bagian dari upaya Driving Impactful Program dan implementasi ToC RBA, ComET juga hadir sebagai talent incubator yang menyatukan pelatihan teknis, pengalaman langsung, dan inovasi sosial berbasis komunitas.

Model dan Pendekatan

ComET Center menerapkan pendekatan pembelajaran yang bersifat kolaboratif, kontekstual, dan adaptif, menggabungkan kekuatan pengetahuan lokal dengan inovasi digital. Setiap metode yang digunakan mengedepankan relevansi kehidupan peserta, pengalaman langsung, serta prinsip inklusi dan pemberdayaan. Berikut lima prinsip utama yang membentuk kerangka kerja ComET:

Andragogy

Prinsip andragogi menempatkan peserta didik dewasa sebagai pemilik pengalaman yang kaya, sehingga proses belajar didesain berbasis refleksi, relevansi, dan pemecahan masalah nyata. ComET mendorong peserta untuk terlibat secara aktif dalam merancang proses belajarnya sendiri, memilih metode yang sesuai, dan mengaitkan pembelajaran dengan tantangan yang mereka hadapi sehari-hari; sehingga dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan aplikatif, bukan sekadar transfer pengetahuan.

Digital Humanities pada ComET menjadi jembatan antara teknologi dan kemanusiaan. Pendekatan ini mengintegrasikan pemanfaatan teknologi digital—seperti AI/kecerdasan artifisial, visualisasi data, dan platform daring—dengan narasi komunitas, ekspresi budaya, dan partisipasi sosial. Tujuannya adalah membangun akses digital yang berkeadilan dan setara, memanusiakan penggunaan teknologi, dan membuka ruang baru bagi kelompok rentan untuk terlibat dalam ekosistem digital secara bermartabat dan kreatif.

Digital Humanities
Experiential Learning

Pembelajaran di ComET tidak hanya terjadi di ruang kelas, melainkan melalui praktik langsung yang terstruktur. Peserta diajak untuk mengalami, mencoba, gagal, dan merefleksikan prosesnya melalui simulasi proyek, kegiatan magang, studi kasus lapangan, dan praktik wirausaha sosial. Dengan pengalaman sebagai sumber utama belajar, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam, keterampilan praktis, dan kepercayaan diri untuk mengambil peran di dunia kerja atau komunitas.

Life-Relevant Learning

Seluruh konten dan konteks pelatihan di ComET disusun agar benar-benar selaras dengan realitas hidup peserta. Ruang lingkup program pelatihan dan pemberdayaan dimaksud mencakup topik-topik seperti pengelolaan keuangan keluarga, kewirausahaan rumah tangga, teknologi tepat guna, serta strategi bertahan hidup di lingkungan urban atau pedesaan; serta kecakapan spesifik berdasar profesi dan/atau industri tertentu. Dengan pembelajaran yang berakar pada kebutuhan sehari-hari, peserta dapat memahami urgensi dan manfaat langsung dari apa yang mereka pelajari.

ComET menggabungkan keunggulan pembelajaran luring dan daring melalui pendekatan blended learning yang fleksibel dan konstruktif. Peserta dapat mengikuti kelas daring secara interaktif dan kontekstual, memanfaatkan modul digital adaptif, serta sesi tatap muka untuk diskusi mendalam dan praktik langsung. Pendekatan ini dikelola dalam sistem pengelolaan pembelajaran (Learning Management System-LMS) guna mendukung keberagaman gaya belajar, memfasilitasi akses di berbagai kondisi geografis, dan dapat mempercepat proses peningkatan kapasitas secara berkelanjutan.

Constructive & Blended Learning

Sasaran dan Komitmen Inklusivitas

ComET Center berkomitmen pada nilai GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) dan prinsip ruang aman (Safe Learning Spaces) dalam seluruh aktivitas pelatihan dan pengembangan.

Sasaran utama penerima manfaat, antara lain:

  • Pemuda dan lulusan baru di daerah urban dan rural;

  • Perempuan pekerja informal dan pelaku UMKM;

  • Penyandang disabilitas dan kelompok berkebutuhan khusus;

  • Komunitas NEET dan pelaku ekonomi digital baru;

  • Pengungsi, penyintas konflik, dan warga tidak terdokumentasi, dan kelompok masyarakat termarginal;

  • Warga pelaku urban farming dan usaha hijau berbasis komunitas.